Menentukan Kaki dan Jenis Transistor

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Transistor merupakan komponen aktif elektronika yang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki tiga buah kaki, yaitu kolektor, basis, dan emitor. Ketiga kaki tersebut tidak boleh salah dalam pemasangannya pada rangkaian elektronika.
Gambar 1. Simbol transistor 

Untuk menentukan jenis transistor dan ketiga kakinya maka dapat menggunakan dua cara, yang pertama dengan melihat pada datasheetnya. Sedangkan yang kedua dengan melakukan pengukuran/ tes kondisi menggunakan AVOmeter/ multitester.
Pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan cara kedua yaitu dengan melakukan tes kondisi menggunakan multitester, yaitu:

1. Menentukan Kaki Basis, Sekaligus Menentukan Jenis Transistor. 

Untuk menentukan kaki basis kita harus tau karakter kaki basis ini, yaitu memiliki hubungan fordward bias pada basis ke kolektor dan basis ke emitor serta referse bias dari kolektor ke basis dan emitor ke basis pada jenis transistor NPN dan kondisi sebaliknya pada jenis PNP. Pada tahap ini kita harus memisalkan kaki-kaki transistor tersebut dengan nama lain, sebagai contoh kaki 1, kaki 2, dan kaki 3. Kemudian atur multitester ke Ohm meter x10 atau x100 kemudian kita cari kaki basis dengan: 

Hubungkan probe merah ke salah satu kaki, misal kaki 1 kemudian probe hitam dihubungkan ke kedua kaki yang lain, apabila multitester memberikan nilai ukur resistansi yang rendah (jarum bergerak lebar) pada keduanya maka kaki 1 adalah kaki basis untuk transistor PNP. Dan NPN apabila probe pada posisi kaki 1 adalah probe hitam dengan hasil ukur seperti sebelumnya. Jika hanya pada satu kaki 2 atau 3 saja yang bergerak kemungkinan basis-nya 2 atau 3. Ulangi lagi, carilah konfigurasi sampai diketemukan jarum multitester bergerak semua. Pastikan basis sudah ketemu dan jenis transistor NPN atau PNP: 

Gambar 2. Menentukan Basis dan jenis transistor

  • NPN: Kaki basis probe hitam, kaki emitor dan kolektor probe merah maka jarum bergerak. kemudian bila dibalik kaki basis probe merah, kaki emitor dan kolektor probe hitam jarum tidak bergerak. 
  • PNP: Kaki basis probe merah, kaki emitor dan kolektor probe hitam maka jarum bergerak. kemudian bila dibalik kaki basis probe hitam, kaki emitor dan kolektor probe merah jarum tidak bergerak.


2. Menentukan Kaki Kolektor Dan Emitor 

Kaki basis sudah ditentukan kemudian kita dapat menetukan kaki kolektor dan emitor dengan konsep transistor sebagai saklar. Untuk menetukan kaki kolektor dan emitor seting multmeter di pindah ke Ohm meter x10KOhm, Kemudian lakukan teknik berikut.

  • Misalnya transistor NPN. Hubungkan probe hitam pada salah satu kaki selain basis dengan cara menempelkan probe bersama jari tangan kita (probe dan kaki transistor dipegang jadi satu).
  • Hubungkan probe merah pada kaki yang lain (juga selain basis) dan jangan disentuh dengan jari tangan. 
  • Sentuh kaki basis dengan jari tangan (dengan tujuan memberikan bias pada kaki tersebut mengingat tubuh kita juga memiliki energi listrik potensial). Jika jarum multitester tidak bergerak, balik posisinya ke kaki yang lain. Sentuh kembali kaki basis dengan jari tangan. Jika jarum meter bergerak cukup lebar maka bisa dipastikan kaki yang dipegang bersama probe hitam adalah kolektor, kaki yang lain (probe merah) adalah emitor.
  • Untuk transistor PNP caranya sama cuma posisi probe merah dan probe hitam dibalik.
Gambar 3. Menentukan Kolektor dan Emitor

Untuk kaki emitor pada kemasan tertentu biasanya ditandai sirip pada kemasan transistor. Kemudian tanda untuk kaki kolektor adalah huruf c, tanda titik bulat, titik kotak atau titik segitiga yang berada di kemasan transistor.

Demikian sedikit penjelasan kami, Semoga bermanfaat. :-)

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

my 1st Vektor

Selamat Pagi, [at]Jumat,, 

Pagi-pagi [sendiri] di kost2an gini enaknya ditemani dengan secangkir kopi sebenarnya.. hhe 

tapii...
Tuh di atas meja ada gula, sayangnya si serbuk hitam-nya yang justru ga' ada, walhasil ... ?? (-.-)

Sesion kali ini cuma ingin posting gambar trace2an pertama ane nih gan, emang sih jauh dari expert namun gapapa mungkin yaa? hhe
#ke.peka'an-&-jam.terbang.sangat.kurang

Tutorial dah banyak di share para master, jadi ane tinggal pake aja.. Tenk Kiyuu
Ane comot nih tutorial dari go*gle, ad buuwaanyak cara, sempat bingung jg, smpe ane cobain satu mper satu. Namun akhirnya..?? :-O

Setelah ane pilah-pilih, ane jadi konsisten pada satu cara, karena lebih rapi dan bagus.. ^.^ 
Bisa pake photosh*p dan cor*l draw, namun sama-sama tenaga keluar, ane pake software-nya vektor langsung, yaitu cor*l.
Nih gambarnya di bawah ndirih pake Cor*l X5,, :-)




Besar harapan saran dan kritik dari para master, jadi tolong comment ya ...
Terimakasih,, :-)

Pendidikan Seumur Hidup dan Belajar Seumur Hidup

1.    Pendidikan Seumur Hidup

“Pendidikan Seumur Hidup”/”Life-Long Education” (bukan “long life education”) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita. Pendidikan seumur hidup merupakan sebuah sistem pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. Azas pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu azas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinue, yang bemula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal. Proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar, tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakanya. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal, non formal maupun formal baik yang berlansung dalam keluarga, disekolah, dalam pekerjaan, dan dalam kehidupan masyarakat. Islam menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup, Nabi bersabda : Tuntutlah ilmu dari buain sampai meninggal dunia.

Pemerintah juga menekankan betapa perlu dan pentingnya pendidikan seumur hidup itu, melalui kebijakan Negara ( Tap MPR No. IV / MPR / 1970 jo. Tap No. IV/ MPR / 1978 Tentang GBHN ) maka dimulailah konsep tentang pendidikan seumur hidup. Didalam UU Nomor 20 tahun 2003, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam pasal 13 ayat (1). Dengan pendidikan seumur hidup manusia di tuntut untuk membantu individunya agar dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial sepanjang hidupnya, yang terpenting adalah manusia dapat bertahan dari segi apapun di era globalisasi ini.

Karena didasarkan betapa pentingnya pendidikan seumur hidup itu, maka memiliki beberapa urgensi antara lain: Aspek ideologis, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan pengetahuan dan menambah keterampilannya. pendidikan seumur hidup akan membuka jalan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Aspek ekonomis, pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting. Aspek sosiologis, di negara berkembang banyak orangtua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya. Pendidikan seumur hidup bagi orang tua merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara demokrasi. Aspek teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di Negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi.

2.    Belajar Seumur Hidup

Belajar seumur hidup sering menjadi semboyan. Namun sungguh sayang jika ini hanya menjadi semboyan saja.  Karena belajar seumur hidup bisa menjadi filsafat hidup yang sangat ampuh. Belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Belajar banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, setiap harinya hanya duduk mendengarkan Guru/Dosen dan diakhir materi mendapatkan ujian, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal. Belajar berarti berlatih diri kita sehingga kita memiliki sesuatu kemampuan yang baru atau kemampuan yang semakin tinggi.  Ini bisa belajar ilmu pengetahuan, keterampilan fisik, dan belajar bersikap. Kalau kita mau, kita bisa memandang segala hal yang kita alami sehari-hari sebagai kesempatan belajar.  Ini menjadi semacam filsafat hidup. Hidup seperti sekolah raksasa. Mata pelajaran: bebas. Kurikulum: kehidupan yang produktif, indah dan bermakna. Kepala sekolahnya: Tuhan sendiri. Setiap hari kita menyempurnakan rutinitas kita, tindakan kita, trik-trik kita.  Kita sempurnakan hubungan kita dengan orang yang kita sayang. Hidup seperti sekolah raksasa. Mata pelajaran: bebas. Kurikulum: kehidupan yang produktif, indah, dan bermakna.  Kepala sekolahnya: Tuhan sendiri.

Tujuan belajar seumur hidup:
1. Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembaurannya seoptimal mungkin.
2. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
Belajar baru berhasil bila kita mampu membuat Habits / kebiasaan baru. Hal yang kita lakukan sehari-hari yang meningkatkan kualitas hidup kita. Tentunya akan sia–sia belajar tinggi-tinggi, susah-susah, kalau tidak ada perubahan dalam tingkah laku kita, akal budi kita, kepribadian kita, sifat-sifat kita, dan kebiasaan kita sehari-hari. Dan hal yang paling harus kita perhatikan adalah perubahan Habits ini. Karena ia adalah identitas diri yang sebenarnya. Kita boleh bilang apa saja, mengklaim apa saja tentang diri kita.  Tapi kita yang sebenarnya, the real me, adalah kebiasaan atau habits kita itu.  Itu hal yang kita lakukan, sadar atau tidak.
Belajar berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal. Dalam belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge) dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup, mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai hidup kita.

Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.

Mahasiswa Cerdas

DOSEN : "Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia
lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi
Al-Quran? Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok. Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Quran kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas.

Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen.

Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang
akan terjadi selanjutnya.

MAHASISWA : "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini."ujarnyasambil membolak balik halaman diktat tersebut.

"Hhuuhhh...."semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres. Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injakdiktat dosen tersebut.

Kelas menjadi heboh. Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.

DOSEN :"kamu?! Berani melecehkan saya?! Kamu tahu apa
yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?! Lancang kamu ya?!" Si dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan
menangkap tangan si dosen.

MAHASISWA : "Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak. Ngapain bapak marah kalau yang saya injak cuma media kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak.
Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??"

DOSEN : "#%&/&%@%&*/@##???.." (speechless)

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat. source

Dosen Cerdas

Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan. Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.

Mahasiswa A: “pak, maaf kami telat ikut ujian semester.”

mahasiswa B: “iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkot-nya meletus.”

Mahasiswa C: “iya kami kasihan sama supirnya, jadinya kami bantu dia pasang ban baru.”

Mahasiswa D: “oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.”



Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan. Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda.


Dosen: "Baik, pada ujian susulan ini saya hanya akan memberikan kalian 2 buah soal, Namun dengan ketentuan kalian baru boleh mengerjakan soal yang kedua setelah soal yang pertama berhasil kalian jawab dan kumpulkan".

“Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.

Selanjutnya dosen tersebut memberikan soal kedua.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.

Di soal kedua tertulis:

“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus ??".

Hikmah:

1) Pentingnya nilai kejujuran !!. Sekecil apapun kebohongan yang kita lakukan tetap akan terungkap. Dan sebuah kebohongan bukanlah solusi dalam menyelesaikan masalah namun akan menambah masalah. Dan kejujuran itu lebih indah, setidaknya akan membuat kita lega setelah jujur. :-)

2) Mari bangun karakter kita mulai sekarang. Kalau bukan sekarang kapan lagi, dan kalau bukan diri kita yang mulai siapa lagi !! :-)

Kado Ucapan (May Day) yang "Cethar"

Singkat saja pada malam hari ini ane tiba-tiba inget akan sebuah hal beberapa hari lalu di bulan lalu, atau tepatnya saat hari-H May Day ku. Kayaknya ini kado ucapan yang kalo menurut Syahroni "cethar membahana" deh.. hhe

Kenapa ane ngomong demikian?? *check this out
Inilah yang ane maksud, lucukan?? Maksudnya apa coba?? HHe :-) #Awas.jangan.ketawa.Lo.!!

Udah dulu, ni tulisan ane posting mumpung free, skalian nge-post, dan cuma 5 menit !! hhe
Just Kidd !! :-D


May Day My Special Day


Sulung dua bersaudara, lahir di sebuah kota kecil dari keluarga pasangan suami istri sederhana.
Meski begitu ane bisa menyelesaikan pendidikan formal TK-SD di luar negeri loooh!! Eittss “Swasta” :-D. Namun SMP-Kuliah sementara cukup di dalam negeri saja lah :-) #CintaTanahAir..hhe

Ane tegaskan lagi !!, ane lahir di kota kecil, namun mendunia loo #Bangga #Yeee #Pukul2Dada #:-D

Ada yang tak tau “Reog” ?? anda yang baca ini pastinya tau, Yaaa minimal pernah denger orang nyebutin-lah atau paling tidak pernah baca tulisan (kalau di eja) “R-E-O-G” :-D #parah

Yaa betul, PONOROGO !! ane lahir di kota reog ini.
Kota yang sejuk, indah (meski hanya penampangnya  saja..hhe), penuh keanehan (karena sering masuk Tipi :-/).Kenapa ane emot begini?? Ya kalau barita-nya baik,membangun,menginspirasi sih Enjoy aja, Namun ……….… !! haah #kalem

Mari lupakan tentang Ponorogo!! #Werrrr

May Day My Special Day.

Tepatnya di salah satu tanggal bulan ini sekitar “tiiiiiitt!!! (cencored :-D) tahun yang lalu” ane diijinkan menghirup panasnya udara dunia. #Alhamdulillah :-)
Andaikan dulu dah ada Pesbook/Twitteer/SosMed lain, mungkin ane mau update status, “gelap Ya Tuhaann”.  Ehh dasar bayi, emang ente tau?? :-D

Kelahiran  ane di hari special, yaitu Jumat, Namun …………...!!  Lhoh kenapa??
Abis kebanyakan orang bilang serem.  Kok bisa !!?? katanya hari spesial???

Emm iya, Jumat-nya sih berkah, namun pasangan-nya itu??!!, Oiya sekedar mengingatkan kalo ane bagian dari suku Jawa (Wong Jowo). Lantas apa hubungannya??
Nah pasangan Jumat-nya itu hari Keliwon (Jawa), Emang kenapa??
Ketauan nih ente orang luar !! :-O
Luar Jawa maksudnya :-D ,  Udah deh capek jelasin, tanya Eyang Google aja :-D

This day is May but Not Now
Bermuka pas-pasan, khas orang jawa pada umumnya, tak lantas memudarkan niatan ane untuk menapakkan langkah. #yeee
Berbekal pengetahuan agama yang teramat minim dengan sedikit keyakinan bahwa Alloh tak memandang fisik ataupun barang2 yang kita miliki. #Ciiee

Kesempatan didunia terus berkurang, hal yang ane kurang sependapat dengan kebanyakan orang yaitu kalo ada orang yang berulang tahun, justru dikasih kata selamat. Apanya yang selamat?? Bukannya umur semakin mendekati akhir?? :-/ #Instropeksi

Penyebutan kata Ulang Tahun pun sebenarnya tidak tepat dan konyol, kok bisa??
Coba apanya yang di ulang?? Tahunnya?? #HanyaIndonesia

Terkira cukup,
Tulisan-nya maksa banget :-D

“Janganlah buat gundah hatimu dengan kesederhanaan dari apa yang kita jalani ini. Selama kita dapat menjaga prinsip dan komitmen. Juga kemurnian atas kejujuran dan ketulusan hati, ucapan, fikiran, dan sikap. Serta kekuatan iman kita. FHD”


Pendidikan Karakter

BAB I
                                                                   PENDAHULUAN

      1.      LATAR BELAKANG
Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat terhubung akan suatu perubahan dan pebaharuan akan system yang hamper setiap tahun berubah. Terlebih pada era perkebangan global dunia yang semakin maju kedepan,sehingga dunia pendidikan dituntut akan adanya suatu revitalisme dalam system maupun konsepnya untuk memajukan dan menyiapkan sumberdaya manusia di Negara Indonesia. Hampir semua lembaga institusi pendidikan di Negara ini berpacu dan berkopetisi mewujudkan keunggulan masing-masing. Sarana pembelajaran dilengkapi dengan berbagai teknlogi canggih, dengan harapan agar bisa menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di dunia internasional.
Dewasa ini pendidikan kita lebih banyak diarahkan pada penguasaan aspek-aspek akademik atau kognitif, karena hanya mengejar target kelulusan peserta didik pada ujian nasional. Semenara itu aspek non akademik yang sebenarnya menjadi pondasi utama dalam pendidikan karakter kurang mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah, sehingga tidak tertanam dalam peserta didik. Ini sungguh ironi bahwa realita yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwa ujian nasional telah mendorong siswa dan stake holder sekolah melakukan pelanggaran atau perilaku negative, tidak jujur dan terkesan menghalalkan segala cara untuk mencapai target kelulusan. Padahal tujuan pendidikan merupakan salah satu wahana untuk menumbuh kembangkan, meneguhkan, dan menguatkan karakter bangsa. Dan ini sangat berbeda dengan apa yang menjadi harapan tujuan pendidikan karakter.
            Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Karakter berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
            Tujuan utama dari pendidikan yaitu untuk melahirkan insan cendekia yang cerdas, tidak hanya cerdas secara akademik namun juga sukses dalam membangun karakter dalam diri peserta didik. Pendidikan Karakter yang memiliki esensi dan makna sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak dengan tujuan membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik ternyata sulit terwujud di dunia pendidikan Indonesia.

      2.      RUANG LINGKUP
Ruang lingkup dalam pembahasan masalah pendidikan karakter ini terletak dalam suatu system pendidikan yang telah di terapkan di Indonesia sebagai pembangun karakter pada masyarakat khususnya pelajar di Indonesia.

      3.     TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini merupakan suatu pembahasan dan solusi atas pendidikan karakter yang di berikan pada masa sekolah, yang bertujuan untuk membangun karakter yang diharapkan terwujudnya sumberdaya manusia yang berkarakter baik dalam kehidupan bernegara mapun bermasyarakat.



BAB II
                                                                     PEMBAHASAN    

            Karakter itu sendiri mempunyai banyak arti, antara lain, kemampuan untuk mengatasi secara efektif situasi sulit, tidak nyaman/tidak enak, dan berbahaya. 

Gambar 1.1. Potensi diri manusia
Dengan pengertian tersebut diatas, karakter menuntut potensi kecerdasan otak,potensi kepekaan nurani, kepekaan diri dan lingkungan, kecerdasan merespon, kesehatan, kekuatan, dan kebugaran jasmani. Indikator kecerdasan otak antara lain, berilmu, berfikir logis dan kritis. Kepekaan nurani ditandai dengan jujur, adil, kasih sayang, empatik, ikhlas, berintegrasi, santun, terpercaya, hormat, suka menolong dan dapat mengendalikan diri. Kepekaan diri dan lingkungan berarti peduli pada diri dan lingkungannya.  Sedangkan kecerdasan merespon ditandai dengan sifat-sifat berani, rajin, diiplin, inisiatif, waspada dan motifasi. Untuk kesehatan, kekuatan dan kebugaran jasmani diperlukan pola hidup (artikel Prof. Dr. Hermintarto Sofyan, KR,  Rabu 19 Mei 2010).
            Pedagang Jerman FW Foerstar (1869-1966), adalah orang yang mula-mula menekankan pentingnya pendidikan karekter. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter yaitu:
Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
Ø Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.
Ø Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.
Ø Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
  Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. Sebagai   aspek terpenting dalam pembentukan karakter, pendidikan harus mampu mendorong anak didik melakukan proses pendakian terjal (the ascent of man). Itu arena dalam diri anak didik terdapat dorongan esensial yaitu, dorongan mempertahankan diri dalam lingkungan eksternal yang biasanya ditandai dengan perubahan cepat,serta dorongan mengembangkan diri atau dorongan untuk belajar terus guna mencapai cita-cita tertentu. Ketika anak didik mampu menyeimbangkan dua dorongan esensial tersebut, maka ia akan menjadi pribadi denagn karakter yang matang. Dari kematangan karkter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.
Yahya A. Muhaimin, Prof., Ph.D., H. mantan Menteri Pendidikan Nasional menyatakan “Indonesia dikenal memiliki karakter yang kuat sebelum zaman kemerdekaan, dan tatkala mencapai kemerdekaan, dan mempertahankan keerdekaan. Sekarang, karakter masyarakat tidak sekuat pada masa lalu,sangat rapuh”. Menurut Yahya, dalam pendidikan, pembentukan karakter dan budaya bangsa pada siswa tidak mesti masuk kurikulum. Nilai-nilai yang ditumbuhkembangkan dalam diri siswa berupa nilai-nilai dasar yang disepakati secara nasional yang berdasarkan pada agama dan kenegaraan. Misalnya kejujuran, dapat dipercaya, kebersamaan, toleransi, tanggungjawab, dan peduli kepada orang lain.

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH
        Pendidikan karakter sebenarnya sudah lama diterapkan dalam proses pembelajaran. Akan tetapi belum bisa berjalan optimal. Sekolah adalah tempat yang utama (setelah keluarga) dan sangat strategis untuk membentuk akhlak/karakter peserta didik. Mestinya sudah menjadi kewajiban setiap sekolah menjadikan kualitas akhlak/karakter sebagai salah satu Quality Assurance yang harus dimiliki setiap lulusannya.
Gambar 2.1. Skema pendidikan karakter
Berikut ini beberapa bentuk implementasi pendidikan karakter disekolah :
1.      Mengusahakan nilai-nilai agama dalam pendidikan menjadi ketentuan standar bagi pengembangan kualitas sekolah.
2.      Mengusahakan peran pendidikan agama mengembangkan moral peserta didik sebagai dasar pertimbangan dan pengendali tingkah lakunya.
3.      Reorientasi pendidikan agama dari pengajaran agama ke penanaman nilai-nilai dan budaya mengamalkan agama dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Peneguhan kembali peran guru di kelas tidak hanya mengajar, akan tetapi juga ”mendidik”.
5.      Semua guru seyogyanya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran.
6.      Memperluas gerakan keteladanan pimpinan sekolah dan guru yang mempraktekkan kata sejalan dengan perbuatan.
7.      Menanamkan sikap dan kebiasaan berperila positif pada peserta didik seperti bertindak jujur, bersih, disiplin, menghargai waktu, dan tanggung jawab.
8.      Penegakan disiplin melalui penerapan aturan dan kebiasaan,dengan memberikan penghargaan kepada yang patuh dan sanksi tegas kepada yang melanggar.
9.      Menghilangkan rasa rendah diri untuk menjadi pelajar yang memiliki kepercayaan diri untuk berdiri sama tinggi dan mampu berkompetisi dengan pelajar-pelajar lain.
10.  Menanamkan semangat kepada segenap peserta didik, bahwa ”kita mampu jika kita mau”.


        Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
       UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


BAB III

A.    KESIMPULAN
System pendidikan di Indonesia harusnya tidak hanya mengembangkan potensi kognitif pada pelajar, tapi harus lebih mengedepankan pemberian pendidikan karakter yang nantinya akan menghasilkan suatu akhlak yang di harapkan membangun bangsa dengan kedua potensi tersebut secra optimal untuk mencapai tujuan nasional Negara kedepan.

B.     SARAN
Dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah pemegang kunci suksesnya adalah GURU. Untuk menghasilkan siswa berkarakter, tentu saja diperlukan guru yang berkarakter. Sungguh satu kebahagiaan yang tak ternilai harganya, apabila dapat menghasilkan anak didik yang berakhlak dan berkarakter baik. Ketekunan, kesabaran, dan kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang luar biasa.




DAFTAR PUSTAKA

Athalia. 2010. Pendidikan Nasional dan Karakter Siswa. (Online). 
Pelita. 2010. Urgensi Pendidikan Karakter. (Online). 
Pimpinan Pusat muhammadiyah. 2009. Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa. Jakarta: Redaksi.
Sofyan Hermintarto. 2010. Pendidikan Karakter bagi Mahasiswa UNY. Yogyakarta:Kantor Rektorat.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

>>fhd_Pend.Karakter<<